Sabtu, 13 Juni 2015
SOLUSIO PLASENTA
Jati Putri Nastitie
2013.02.019
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
AKADEMI KESEHATAN RAJEKWESI
BOJONEGORO
2015 SOLUSIO PLASENTA
Pengertian
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplasenter. Hematoma dapat semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga amniokhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila amniokhorion tidak terlepas, perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi).
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari implantasi normalnya (korpus uteri) setelah kehamilan 20 minggudan sebelum janin lahir.
Solusio plasenta sebagai separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya korpusm uteri sebelum janin lahir.
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi normalnya sebelum janin lahir, dan definisi ini hanya berlaku apabila terjadi pada kehamilan di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram
Klasifikasi
Solusio plasenta menurut derajat pelepasan plasenta
Solusio plasenta totalis, plasenta terlepas seluruhnya.
Solusio plasenta partialis, plasenta terlepas sebagian.
Ruptura sinus marginalis, sebagian kecil pinggir plasenta yang terlepas.
Solusio plasenta menurut bentuk perdarahan
Solusio plasenta dengan perdarahan keluar
Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi, yang membentuk hematoma retroplacenter
Solusio plasenta yang perdarahannya masuk ke dalam kantong amnion .
Solusio plasenta menurut tingkat gejala klinisnya
Ringan : perdarahan <100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta <1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma >150 mg%
Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.
Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.
3. Etilogi
Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa faktor yang menjadi predisposisi
Faktor trauma
Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli
Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak / bebas, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan
Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain
Faktor paritas ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara. Beberapa penelitian menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium
Faktor usia ibu
Makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun
Leiomioma uteri ( utyyerine leiomyoma ) yang hamil dapat menyebabkan solusio plasenta apabila plasenta berimplantasi di atas bagian yang mengandung leiomioma
Faktor pengunaan kokain.
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan pelepasan katekolamin yang bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan berakibat terlepasnya plasenta. Namun, hipotesis ini belum terbukti secara definitive
Faktor kebiasaan
Merokok Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya
Riwayat solusio plasenta sebelumnya Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta
Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi / defisiensi gizi, tekanan uterus pada vena cava inferior dikarenakan pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan, dan lain-lain .
Gambaran Klinis
Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta ringan ini disebut juga rupture sinus marginalis , dimana terdapat pelepasan sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak. Apabila terjadi perdarahan pervaginam, warnanya akan kehitam- hitaman dan sedikit sakit. Perut terasa agak sakit, atau terasa agak tegang yang sifatnya terus menerus. Walaupun demikian, bagian-bagian janin masih mudah diraba. Uterus yang agak tegang ini harus selalu diawasi, karena dapat saja menjadi semakin tegang karena perdarahan yang berlangsung.
Solusio plasenta sedang
Dalam hal ini plasenta terlepas lebih dari 1/4 bagian, tetapi belum 2/3 luas permukaan Tanda dan gejala dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan, tetapi dapat juga secara mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, yang tidak lama kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam. Walaupun perdarahan pervaginam dapat sedikit, tetapi perdarahan sebenarnya mungkin telah mencapai 1000 ml. Ibu mungkin telah jatuh ke dalam syok, demikian pula janinnya yang jika masih hidup mungkin telah berada dalam keadaan gawat. Dinding uterus teraba tegang terus-menerus dan nyeri tekan sehingga bagian- bagian janin sukar untuk diraba.Jika janin masih hidup, bunyi jantung sukar didengar. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah terjadi,walaupun hal tersebut lebih sering terjadi pada solusio plasenta berat
Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 permukaannnya. Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan syok dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampak tidak sesuai dengan keadaan syok ibu, terkadang perdarahan pervaginam mungkin saja belum sempat terjadi. Pada keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan kelainan / gangguan fungsi ginjal
Komplikasi
Syok perdarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah diselesaikan, penderita belum bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III . Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat
Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang baik.
Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia.
Apoplexi uteroplacenta ( Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot- otot rahim dan di bawah perimetrium kadang- kadang juga dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire.
Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:
Fetal distress, Gangguan pertumbuhan / perkembangan, Hipoksia, anemia, Kematia
Diagnosis
Anamnesis
Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut
Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan sekonyong- konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah yang berwarna kehitaman
Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti
Kepala terasa pusing,lemas, muntah, pucat, mata berkunang-kunang.
Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan factor kausal yang lain.
Inspeksi
Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
Pucat, sianosis dan berkeringat dingin.
Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu).
Palpasi
Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
Uterus tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun di luar his.
Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.
Bagian-bagian janin sulit dikenali, karena perut (uterus) tegang.
Auskultasi
Sulit dilakukan karena uterus tegang, bila DJJ terdengar biasanya di atas 140, kemudian turun di bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari 1/3 bagian.
Pemeriksaan dalam
Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup.
Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan tegang
Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus placenta
Pemeriksaan umum
Tekanan darah semulamungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi akan turun dan pasien jatuh dalam keadaan syok. Nadi cepat dan kecil.
Pemeriksaan laboratorium
Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit.
Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan cross- match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia
Pemeriksaan plasenta.
Plasenta biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplacenter .
Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain :Terlihat daerah terlepasnya plasenta, Janin dan kandung kemih ibu, Darah, Tepian plasenta
Terapi
Solusio plasenta ringan
Bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, perut tidak sakit, uterus tidak tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat, kemudian tunggu persalinan spontan. Bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin jelas, pada pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah luas), maka kehamilan harus segera diakhiri. Bila janin hidup, lakukan seksio sesaria, bila janin mati lakukan amniotomi disusul infuse oksitosin untuk mempercepat persalinan
Solusio plasenta sedang dan berat
Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi transfuse darah, amniotomi, infuse oksitosin dan jika perlu seksio sesaria Apabila diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Maka transfuse darah harus segera diberikan. Amniotomi akan merangsang persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin. Dengan melakukan persalinan secepatnya dan transfusi darah dapat mencegah kelainan pembekuan darah. Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak berlangsungnya solusio plasenta. Tetapi jika tidak memungkinkan, walaupun sudah dilakukan amniotomi dan infus oksitosin, maka satu-satunya cara melakukan persalinan adalah seksio sesaria Apoplexi uteroplacenta tidak merupakan indikasi histerektomi. Tetapi jika perdarahan tidak dapat dikendalikan setelah dilakukan seksio sesaria maka histerektomi perlu dilakukan.
5. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan pada solusio plasenta prinsipnya pada anak :
Mencegah kematian ibu
Mengehntikan sumber perdarahan
Jika janin masih hidup, memepertahankan dan mengusahakan janin lahir hidup
Prinsip utama penatalaksanaan :
Pasien dirawat dirumah sakit, istirahat berbaring dan mengukur keseimbangan cairan
Optimalisasi keadaan umum pasien dengan perbaikan memberikan infuse dan transfusi darah
Pemeriksaan labolatorium :
Hemoglobin, hematokrit, COT (Clob Observation, Test/ tes pembekuan darah), kadar fibrinogen plasma, urin lengkap dan fungsi ginjal
Pasien gelisah diberikan obat analgetika
Terminasi kehamilan : persalinan segera,pervaginam atau section sesarea. Yang tujuannya adalah untuk menyelamatkan nyawa janin dan dengan lahirnya plasenta,berjutuan agar dapat menghentikan perdarahan.
Bila terjadi gangguan pembekuan darah (COT >30 menit) diberikan darah segar dalam jumlah besar dan bila perlu fibrinogen dengan monitoring berkala pemeriksaan COT dan hemoglobin
Untuk mengurangi tekanan intrauterine yang dapt menyebabkan nekrosis ginjal (reflek utero ginjal) selaput ketuban segera dipecahkan Yang perlu diketahui oleh semua bidan yaitu penanganan di tempat pelayanan kesehatan tingkat dasar ialah mengatasi syok/pre-syok dan mempersiapkan rujukan sebaik-baiknya dan secepat- cepatnya.
Mengingat komplikasi yang dapt terjadi yaitu perdarahan banyak dan syok berat hingga kematian,atonia uteri,kelainan pembekuan darah dan oliguria. Maka sikap paling utama dari bidan dalam menghadapi solusio plasenta adalah segera melakukan rujukan ke rumah sakit.
6. Rujukan
Dalam melakukan rujukan,bidan dapat memberikan pertolongan darurat dengan :
Memasang infuse
Tampa melakukan pemeriksaan dalam
Menyertakan petugas dalam merujuk pasien
Mempersiapkan donor darah dari keluarga/masyarakat
Mentyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan dalm pemberian pertolongan pertama. Section caesaria : indikasi section saesaria dapat dilihat dari sisi ibu dan / atau anak. Tindakan section caesaria dipilih bila persalinan diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu singkat (dengan dilatasi 3-4 cm kejadian solusio plasenta pada nulipara).
7. Penatalaksanaan asuhan ibu di kamar bersalin
Bidan yang bertugas dikamar bersalin rumah sakit / rumah bersalin dalam menghadapi pasien (ibu) dengan solusio plasenta,dapat melakukan tindakan- tindakan sebagai berikut :
Abservasi keadaan umum ibu sebelum partus / persalinan :
Ukur tekanan darah, nadi, vhyypernapasan setiap ¼ jam sekali
Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
Mengukur banyaknya perdarahan yang keluar,periksa hemoglobin
Pasang infuse sesuai dengan keadaan umum ibu
Penyediaan darah secepatnya sebaiknya darah segar dengan jumlah yang telah diperhitungkan dengan perkiraan kehilangan darah
Minta izin operasi
Dilakukan pemeriksaan terstpembekuan darah (COT : Clot Observation Test)
Observasi keadaan umum ibu sesudah partus/persalinan,yang bertujuan untuk :
Mencegah agar tidak terjadi perdarahan pasca persalinan) dengan :
Memasang folley kateter (kolaborasi)
Memasang gurita untuk penekanan pada fundus uteri
Mencegah infeksi
ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny P G1 P0 A0
TRIMESTER III USIA KEHAMILAN 38 MINGGU
DENGAN SOLUTIO PLASENTA
RSUD dr. SOSODORO DJATIKOESOEMO
BOJONEGORO
No. Register : 201/05/2015
Masuk RS tanggal : 5 Mei 2015
Pukul : 14.00 WIB
Dirawat di ruang : Ruang Kamar Bersalin
I. PENGKAJIAN
Tanggal : 5 Mei 2015
Pukul : 14.00 WIB
Oleh : Bidan
DATA SUBJEKTIF
Identitas
Nama ibu : Ny. P Nama Suami : Tn. S
Umur : 25 Tahun Umur : 26 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku / bangsa : Indonesia Suku / bangsa : Indonesia
Pendidikan : SMA Pendidikan : PT
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : PNS/ Guru
Alamat : Perum Pepabri
Keluhan utama
Ibu mengatakan hamil anak pertama usia kehamilan 8-9 bulan, mengeluh nyeri pada bagian perut, terasa sesak dan kadang kadang perut terasa tegang.
Riwayat kesehatan Ibu
Penyakit yang pernah / sedang diderita (menular,menurun dan menahun) Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti, Penyakit menurun seperti Hipertensi dan Diabetes Militus, Penyakit menahun seperti, Asma, Jantung, dan ginjal. Ibu tidak pernah opname maupun operasi apapun, ibu tidak mempunyai riwayat alergi obat.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan keluarga ibu dan suami tidak pernah menderita penyakit menular seperti, PMS, TBC, Hepatitis, Penyakit menurun seperti Hipertensi dan Diabetes Militus, Penyakit menahun seperti, Asma, Jantung, dan ginjal. Keluarga ibu dan suami tidak memiliki riwayat keturunan kembar.
Riwayat menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28-30 hari
Lama : 5-7 hari
Teratur : Ya
Sifat darah : Cair, bau khas, merah segar
Keluhan : Tidak ada
HPHT : 12 Agustus 2014
TTP : 19 Mei 2015
Riwayat perkawinan
Status pernikahan : Sah
Menikah ke : 1 ( satu )
Lama : 3 tahun
Usia menikah : 22 Tahun
Riwayat obstetric
N i kah UKJenis Partus Penolong Tempat Kelainan PartusJK / BB / TB Usia SekarnagURI Nifas1. Hamil ini--------
Riwayat kontrasepsi yang digunakan
Ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun
Riwayat kehamilan sekarang
ANC pertama usia kehamilan 6 minggu
Trimester I
Frekuensi : 2 kali kunjungan
Tempat : BPM
Oleh : Bidan
Keluhan : Mual, muntah
Terapi : B6 , Kalk
Trimester II
Frekuensi : 4 kali kunjungan
Tempat : BPM
Oleh : Bidan
Keluhan : Nyeri perut
Terapi : Fe, Kalk, Asam mefenamat
Trimester III
Frekuensi : 3 kali kunjungan
Tempat : Rumah sakit
Oleh : Dokter
Keluhan : Nyeri perut
Terapi : Fe, Kalk, Asam mefenamat
Imunisasi TT : Catin
Ibu mengatakan merasakan gerakan lebih dari 10 kali dalam 24 jam (dalam sehari)
Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
PolaSebelum hamilSelama hamilNutrisiMakan : 3 kali / hari, nasi 3 entong, lauk, sayur, buah.
Minum : 8 gelas / hariMakan : 3 kali / hari, nasi 3 entong, lauk, sayur, buah, susu hamil.
Minum : 8 gelas / hariEliminasiBAB : 1 kali / hari
BAK : 6 kali / hariBAB : 1 kali / hari
BAK : 6 kali / hariIstirahatTidur siang : 2 jam / hari
Tidur malam : 8 jam / hariTidur siang : 2 jam / hari
Tidur malam : 8 jam / hariAktifitasMenyapu, memasak, mencuci, mengepel, senam aerobikMenyapu, memasak, mencuci, mengepel, senam ibu hamil, jalan-jalan pagiKebiasaanIbu tidak minum-minuman beralkohol, tidak merokok, tidak mengkonsumsi pil / obat terlarangIbu tidak minum-minuman beralkohol, tidak merokok, tidak mengkonsumsi pil / obat terlarang, tidak minum jamu tradisionalSeksualitas2 kali / minggu2 kali / mingguRekreasiJalan-jalan, menonton tv, mendengarkan radio / musikJalan-jalan, menonton tv, mendenarkan radio / musik klasik
Data Psikososial
Psiko : Ibu tampak cemas akan keadaan janin dan dirinya
Sosial : Suami dan keluarga selalu mendampingi ibu
Latar Belakang Sosial Budaya
Tidak ada pantangan makan-makanan apapun, menggelar acara 7 bulan kehamilan nya.
Data Spiritual
Ibu sholat 5 waktu, pengajian setiap minggu pagi, membaca al-quran setelah sholat subuh dan maghrib, memperbanyak membaca surat yusuf dan mariyam.
Pengetahuan ibu ( tentang kehamilan , persalinan dan nifas )
Ibu belum mengetahui tentang tanda bahaya kehamilan dan persiapan dan proses persalinan
B. Data Obyektif
Pemeriksaan umum
Kesadaran umum : Gelisah, cemas, pucat, kesakitan pada abdomen
Kesadaran : Apatis
Tekanan darah : 110 / 70 mmHg
Nadi : 80 x / menit
Pernapasan : 21 x / menit
Suhu : 37,3 C
BB sekarang : 64 Kg
Tinggi badan : 160 cm
BB sebelum hamil : 53 Kg
Pemeriksaan fisik
Kepala : Mesochepalus, tidak oedema, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan.
Rambut : Lurus, bersih, tidak berketombe, peneyebaran merata, rambut tidak rontok
Muka : Oval, sianosis, pucat,tidak ada oedema, tidak ada cloasma gravidarum.
Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva merah muda, tidak konjungtivitis
Hidung : Tidak ada sekret, tidak ada polip.
Mulut : Tidak stomatitis, tidak ada karies gigi, lidah bersih.
Telinga : Simetris, tidak ada serumen, pendengaran baik.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, parotis, limfe dan vena jugularis.
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada bunyi wheezing
Payudara : Simetris, puting menonjol, tidak ada massa, terdapat hiper pigmentasi puting dan aerola mamae.
Abdomen : Tidak ada bekas operasi, perut membesar, ada linea nigra, ada striae
TFU antara pusat dan PX
Leopold I : Bagian fundus teraba bulat, lunak, dan tidak melenting (bokong)
Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba kecil-kecil tidak beraturan (ekstremitas)
Bagian kiri perut ibu teraba memanjang seperti papan (punggung)
Leopold III : Bagian bawah perut ibu teraba bulat, keras, dan melenting (kepala)
Leopold IV : Bagian terendah janin belum masuk panggul (5/5)
Mc. Donald : TFU 30 cm
Antara pusat dan PX
TBJ : (31 - 12) x 155= 2945 gr
Auskultasi DJJ : < 100 x / menit
Ekstremitas atas : Simetris, tidak polidaktili, tidak oedem
Ekstremitas bawah : Simetris, tidak polidaktili, tidak oedem, tidak varises
Reflek patella : Kanan + / kiri +
Genetalia Luar : Tidak ada keputihan dan tidak gatal, tidak ada pembengkakan kelenjar skin maupun bartolini, tidak ada condiluma akuminata, ada perdarah keluar pervaginam 150 cc.
Anus : Tidak hemoroid
Panggul luar : Distansia Spinarum : -
Distansia Cristarum : -
Konjgata Eksterna : -
Lingkar Panggul : -
Pemeriksaan penunjang tanggal
Pemeriksaan laboratorium
Haemoglobin 8,9 gr %
Kadar fibrinogen plasma >150 mg%
Protein urin : (+)
Reduksi urin : -
USG janin tunggal hidup intrauteri , UK 38 minggu, solusio plasenta marjinalis, pelepasan plasenta < 1/6 bagian permukaan
II. INTERPRETASI DATA
Diagnosa Kebidanan : Ny. P umur 30 tahun, G1 P0 A0, UK 38 minggu, janin tunggal, janin hidup DJJ < 100 x / menit, intrauteri, preskep, puki dengan solutio plasenta
Masalah : USG ditemukan solusio plasenta marjinalis
Kebutuhan : Penatalaksanaan solusio plasenta
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
Potensial hipoksia pada bayi
Perdarahan pada ibu
Kematian janin
IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Mandiri : Tidak ada
Kolaborasi : dr SpOG untuk melakukan penanganan solusio plasenta
Rujukan : Rumah Sakit kolaborasi dengan dokter SpOG
V. INTERVENSI
Lakukan pendekatan kepada ibu dengan bahasa yang sopan serta komunikasi yang baik untuk menjalin hubungan antara bidan dan pasien
R : Meningkatkan rasa percaya dari pasien kepada bidan untuk penanganan lebih lanjut
Jelaskan pada ibu hasil pemeriksaan
R : Ibu mengetahui keadaan dirinya dan bayinya, serta resiko yang mungkin muncul
Persiapan rujuakan
R : Mempercepat penanganan solusio plasenta
Penatalaksanaan solusio plasenta kolaborsi dokter SpOG
R : Menurunkan resiko komplikasi solusio plasenta
Asuhan dikamar bersalin
R : Mengevaluasi keadaan ibu untuk menuurunkan resiko komplikasi yang mungkin muncul
VI. IMPLEMENTASI
Melakukan pendekatan kepada ibu dengan komunikasi yang baik, menjaga privasi
Pasien dan meningkatkan rasa percaya dari pasien ke bidan
Menjelaskan pada Ibu hasil pemeriksaannya yaitu :
DJJ : Kadang terdengar kadang tidak
Menjelaskan tentang keluhan yang dialami Ibu yaitu nyeri pada bagian perut terasa sesak dan kadang kadang perutterasa tegang di sebabkan karena terlepasnya sebagian plasenta. Ibu harus segera dirujuk.
Persiapan rujukan
Dalam melakukan rujukan,bidan dapat memberikan pertolongan darurat dengan
Memasang infuse NaCL/RL 2-3 kali jumlah darah yang hilang
Tanpa melakukan pemeriksaan dalam
Menyertakan petugas dalam merujuk pasien
Mempersiapkan donor darah dari keluarga/masyarakat
Mentyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan dalm pemberian pertolongan pertama.
Penatalaksanaan solusio plasenta dilakukan oleh dokter SpOG
Pasien dirawat dirumah sakit, istirahat berbaring dan mengukur keseimbangan cairan
Optimalisasi keadaan umum pasien dengan perbaikan memberikan infuse dan transfusi darah
Pasien gelisah diberikan obat analgetika
Terminasi kehamilan : persalinan segera dengan section sesarea. Karena belum ada tanda inpartu, belum ada pembukaan maupun penipisan servic (servic belum matang), terdapat perdarahan 150 cc, keadaan umum ibu dan janin jelek. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan nyawa janin dan dengan lahirnya plasenta dan agar dapat menghentikan perdarahan.
Bila terjadi gangguan pembekuan darah (COT >30 menit) diberikan darah segar dalam jumlah besar dan bila perlu fibrinogen dengan monitoring berkala pemeriksaan COT dan hemoglobin
Untuk mengurangi tekanan intrauterine yang dapt menyebabkan nekrosis ginjal ,--(reflek utero ginjal) selaput ketuban segera dipecahkan Yang perlu diketahui oleh semua bidan yaitu penanganan di tempat pelayanan kesehatan tingkat dasar ialah mengatasi syok/pre-syok dan mempersiapkan rujukan sebaik-baiknya dan secepat- cepatnya.
Mengingat komplikasi yang dapt terjadi yaitu perdarahan banyak dan syok berat hingga kematian,atonia uteri,kelainan pembekuan darah dan oliguria. Maka sikap paling utama dari bidan dalam menghadapi solusio plasenta adalah segera melakukan rujukan ke rumah sakit.
Bidan yang bertugas dikamar bersalin rumah sakit / rumah bersalin dalam menghadapi pasien (ibu) dengan solusio plasenta,dapat melakukan tindakan- tindakan sebagai berikut :
Abservasi keadaan umum ibu sebelum partus / persalinan :
Ukur tekanan darah, nadi, pernapasan setiap ¼ jam sekali
Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
Mengukur banyaknya perdarahan yang keluar,periksa hemoglobin
Pasang infuse sesuai dengan keadaan umum ibu
Penyediaan darah secepatnya sebaiknya darah segar dengan jumlah yang telah diperhitungkan dengan perkiraan kehilangan darah
Minta izin operasi
Dilakukan pemeriksaan terstpembekuan darah (COT : Clot Observation Test)
Observasi keadaan umum ibu sesudah partus/persalinan,yang bertujuan untuk
Mencegah agar tidak terjadi perdarahan pasca persalinan) dengan :
Memasang folley kateter (kolaborasi)
Memasang gurita untuk penekanan pada fundus uteri
Mencegah infeksi
VII. EVALUASI
S : Ibu mengatakan sakit pada perutnya, terasa tegang, pusing, mata berkunang.
O : Keadaan umum ibu karang baik, gelisah, pucat, semas, kesadaran apatis, perdarahan pervaginam <100 200 cc, pemeriksaan USG ditemukan solusio plasenta marginalis
A : Ibu hamil G1 P0 A0, Usia Kehamilan 38 minggu, dengan solusio plasenta
P : Mempersiapkan rujukan, berkolaborsi dengan dokter SpOG untuk penatalaksanaan solusio plasenta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar